بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Waktu Shalat dan Keutamaannya

1.  Imam Bukhari rahimahullah berkata :
وَقَوْلِهِ [النساء 103] إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا مُوَقَّتًا وَقَّتَهُ عَلَيْهِمْ
“Dan firman Allah :
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang2 yang beriman.”
(Q.S An-Nisa ayat 203)
(Shahih al-Bukhari 1/110)

Al-Hafizh ibnu Rajab rahimahullah mengatakan dalam syarh beliau atas Shahih al-Bukhari :
وقد دل القرآن في غير موضع على مواقيت الصلوات الخمس ، وجاءت السنة مفسرة لذلك ومبينة له فمن ذلك : قوله الله تعالى : ( أَقِمْ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إلى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ( . :
وقد ذكر غير واحد من الأئمة كمالك والشافعي : أن هذه الآية تدل على الصلوات الخمس
“Sungguh Al-Quran telah menunjukan dalam berbagai ayatnya tentang waktu2 shalat yang lima, dan datang di dalam sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperinci dan menjelaskannya.
Diantara ayat2 tersebut adalah firman Allah :
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Q.S Al-Isra’ ayat 78)
Dan tidak hanya seorang dari kalangan para imam seperti imam Malik dan imam Syafi’I telah menyebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil atas shalat lima waktu…”
(Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari 4/175)

Al-Hafizh ibnu Rajab rahimahullah juga mengatakan :“Kemudian disebutkan tentang waktu Fajar (Subuh) dengan firman-Nya : “dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

Dan beliau rahimahullah juga mengatakan :
“Dan begitupula firman Allah : “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam.”
Adapun firman-Nya : “Pada kedua tepi siang.”, maka termasuk di dalamnya Shalat Fajar dan shalat Ashar.
Dan dikatakan : “Sesungguhnya termasuk di dalamnya adalah shalat Zhuhur dan Ashar sebab keduanya adalah kedua tepi siang yang akhir.”
Adapun firman Allah : “dan bagian permulaan dari malam”, maka masuk di dalamnya shalat Maghrib dan Isya.
Demikian pula apa yang dikatakan oleh Qatadah : “Sesungguhnya bagian permulaan dari malam, masuk di dalamnya shalat Maghrib dan Isya. Sedangkan pada kedua tepi siang, masuk di dalamnya shalat Fajar dan Ashar.”
Dan diriwayatkan dari Al-Hasan bahwa ia berkata tentang firman Allah : “pada kedua tepi siang.”
Ia berkata : “Shalat Fajar, dan kedua tepi yang akhir adalah shalat Zhuhur dan Ashar.”
Adapun : “bagian permulaan dari malam”, maka ini adalah shalat Maghrib dan Isya.”
(Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari 4/176)

Adapun apa yang terdapat dalam sunnah rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai perinci dan penjelas akan waktu2 shalat, diantaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh imam An-Nasa’i rahimahullah, beliau berkata :
أخبرني عبيد الله بن سعيد قال حدثنا عبد الله بن الحارث قال ثور حدثني سليمان بن موسى عن عطاء بن أبي رباح عن جابر قال سأل رجل رسول الله صلى الله عليه و سلم عن مواقيت الصلاة فقال صل معي فصلى الظهر حين زاغت الشمس والعصر حين كان فيء كل شيء مثله والمغرب حين غابت الشمس والعشاء حين غاب الشفق قال ثم صلى الظهر حين كان فيء الإنسان مثله والعصر حين فيء الإنسان مثليه والمغرب حين كان قبل غيبوبة الشفق قال عبد الله بن الحارث قال في العشاء أرى إلى الثلث الليل
Telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin Sa’id, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Harits, Tsaur berkata : “Telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Musa dari ‘Atha bin Abi Rabah dari Jabir radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :
“Seorang laki2 bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu2 shalat.
Maka rasulullah bersabda : “Shalatlah bersamaku.”
Kemudian rasulullah shalat Zhuhur saat matahari tergelincir dan shalat Ashar saat bayangan benda sama seperti aslinya.
Lalu shalat Maghrib saat matahari telah terbenam dan shalat Isya ketika mega merah telah lenyap.
Jabir berkata :
“Lalu beliau shalat Zhuhur saat bayangan manusia sama seperti aslinya dan shalat Ashar ketika bayangan manusia dua kali aslinya.
Kemudian shalat Maghrib saat menjelang hilangnya mega merah.”
‘Abdullah bin Al-Harits mengatakan : “Dia mengatakan tentang shalat Isya : “Aku memperkirakannya hingga 1/3 malam.”
(Sunan An-Nasa’i al-Kubra 1/469 no.1506)

Imam At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan tentang hadits ini :
وقال محمد أصح شيء في المواقيت حديث جابر عن النبي صلى الله عليه و سلم
“Dan Muhammad (yakni imam Bukhari rahimahullah) mengatakan : “Riwayat yang paling shahih dalam masalah waktu2 shalat adalah hadits dari Jabir radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”
(Sunan At-Tirmidzi 1/281 no.150)

Beliau rahimahullah juga berkata :
“Hadits Jabir dalam masalah waktu2 shalat telah diriwayatkan oleh ‘Atha bin Abi Rabah, ‘Amru bin Dinar, dan Abu az-Zubair dari Jabir bin ‘Abdullah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”
(Sunan At-Tirmidzi 1/281 no.150)

2. Imam Bukhari rahimahullah berkata :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ أَخَّرَ الصَّلَاةَ يَوْمًا فَدَخَلَ عَلَيْهِ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ أَخَّرَ الصَّلَاةَ يَوْمًا وَهُوَ بِالْعِرَاقِ فَدَخَلَ عَلَيْهِ أَبُو مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيُّ فَقَالَ مَا هَذَا يَا مُغِيرَةُ أَلَيْسَ قَد عَلِمْتَ أَنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ فَصَلَّى فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
ثُمَّ صَلَّى فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ بِهَذَا أُمِرْتُ فَقَالَ عُمَرُ لِعُرْوَةَ اعْلَمْ مَا تُحَدِّثُ أَوَأَنَّ جِبْرِيلَ هُوَ أَقَامَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقْتَ الصَّلَاةِ قَالَ عُرْوَةُ كَذَلِكَ كَانَ بَشِيرُ بْنُ أَبِي مَسْعُودٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ
“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah, ia berkata : “Aku membacakan pada Malik (bin Anas) dari ibnu Syihab bahwasannya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pada suatu hari mengakhirkan shalat.
Maka datang kepadanya ‘Urwah bin Az-Zubair dan mengabarkan kepadanya bahwa Mughirah bin Syubah radhiyallaahu ‘anhu saat berada di Iraq pada suatu hari mengakhirkan shalat.
Maka datang kepadanya Abu Mas’ud al-Anshari dan berkata : “Apakah ini ya Mughirah?”
Bukankah engkau mengetahui bahwa Jibril shalallaahu ‘alaihi wa sallam turun lalu shalat, maka shalat pula bersamanya rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Jibril shalat lagi, dan shalat pula rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Jibril shalat lagi, dan shalat pula rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian rasulullah bersabda : “Dengan inilah aku diperintahkan.”
…………………………”
(Shahih Al-Bukhari 1/110-111 no.521)

Al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullah mengatakan dalam syarh-nya :
قال ابن عبد البر: ظاهر سياقه أنه فعل ذلك يوما ما، لا أن ذلك كان عادة له وإن كان أهل بيته معروفين بذلك ا هـ.
وسيأتي بيان ذلك قريبا في ” باب تضييع الصلاة عن وقتها ”
“Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan : “Riwayat tersebut secara zhahir menunjukkan bahwa hal itu (yakni mengakhirkan waktu shalat) dilakukan oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz hanya pada suatu hari dan bukan berarti hal tersebut menjadi kebiasaan beliau, meskipun hal seperti itu ma’ruf di kalangan orang2 lain.”
Hal ini nanti akan dijelaskan dalam bab Menyia-nyiakan shalat sampai keluar waktunya.”
(Fathul Bari 2/6)

Al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullah lalu mengatakan lagi :
“Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan : “Maksudnya yaitu bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengakhirkan waktu shalat sampai keluar waktu yang mustahab, dan bukan meng-akhirkannya sampai terbenamnya matahari.”
(Fathul Bari 2/6)

Al-Hafizh rahimahullah juga mengatakan :
“Semua riwayat yang ada menjelaskan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul Aziz tidaklah menjadi lebih banyak ber-hati2 dalam masalah waktu2 shalat kecuali setelah diberitahu oleh ‘Urwah bin Zubair dengan hadits yang disebutkan.”
(Fathul Bari 2/8)

Note:

‘Umar bin bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah adalah seseorang yang banyak berhati-hati dalam waktu shalat, namun setelah mendengar hadits dari ‘Urwah bin Az-Zubair rahimahullah ini, beliau menjadi lebih banyak ber-hati2 lagi.

Adapun Al-Hafizh ibnu Rajab rahimahullah, maka beliau mengatakan :
هذا الحديث يدل على أن مواقيت الصلوات الخمس بينها جبريل عليه السلام للنبي ( بفعله ، فكان ينزل فيصلي به كل صلاة في وقتها إلى أن بين له مواقيتها كلها
“Hadits ini menjadi dalil bahwa waktu2 shalat yang lima telah dijelaskan oleh Jibril ‘alaihissalaam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan perbuatannya.
Saat Jibril turun, lalu ia melaksanakan tiap2 shalat dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada waktunya, sehingga dengan hal itu sekaligus menjelaskan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan waktu2 shalat semuanya.”
(Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari 4/163)

Note:
Yang beliau maksud dengan : “Hadits ini menjadi dalil bahwa waktu2 shalat yang lima telah dijelaskan oleh Jibril ‘alaihissalaam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan perbuatannya”, yaitu pada bagian :
“Bukankah engkau mengetahui bahwa Jibril shalallaahu ‘alaihi wa sallam turun lalu shalat, maka shalat pula bersamanya rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Jibril shalat lagi, dan shalat pula rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Jibril shalat lagi, dan shalat pula rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian rasulullah bersabda : “Dengan inilah aku diperintahkan.”

Wallaahu a’lam.

3. Imam Bukhari rahimahullah berkata :
قَالَ عُرْوَةُ وَلَقَدْ حَدَّثَتْنِي عَائِشَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ فِي حُجْرَتِهَا قَبْلَ أَنْ تَظْهَرَ
“Urwah berkata : “Sungguh ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar dan sinar matahari dalam kamarnya belum nampak.”
(Shahih Al-Bukhari 1/111 no.522)

Dalam riwayat lainnya, imam Bukhari rahimahullah mengatakan :
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الْعَصْرِ وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ فِي حُجْرَتِي لَمْ يَظْهَرْ الْفَيْءُ بَعْدُ
“…….dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata :
“Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar dan sinar matahari muncul di kamarku.
Tidak terlihat bayang2 setelah itu.”
(Shahih Al-Bukhari 1/114 no.546)

Al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullah dalam hal ini mengatakan :
والمستفاد من هذا الحديث تعجيل صلاة العصر في أول وقتها، وهذا هو الذي فهمته عائشة، وكذا الراوي عنها عروة واحتج به على عمر بن عبد العزيز في تأخيره صلاة العصر كما تقدم.
“Dan diperoleh dari hadits ini untuk menyegerakan shalat Ashar di awal waktunya.
Seperti inilah yang dipahami oleh ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha dan seperti itupula yang dipahami oleh ‘Urwah yang meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha dan ‘Urwah ber-hujjah dengan hadits ini saat mengingkari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ketika beliau mengakhirkan shalat Ashar sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.”

Dan Imam At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan :
وهو الذي اختاره بعض [ أهل العلم من ] أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم منهم عمر و عبد الله بن مسعود و عائشة و أنس وغير واحد من التابعين تعجيل صلاة العصر وكرهوا تأخيرها وبه يقول عبد الله بن المبارك و الشافعي و أحمد و إسحق
“Dan itu adalah yang dipilih oleh sebagian ahli ilmu dari kalangan sahabat2 Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, dan Anas radhiyallaahu ‘anhu dan juga dipilih oleh tidak hanya seorang dari kalangan tabi’in yakni tentang menyegerakan shalat Ashar dan mereka me-makruh-kan untuk meng-akhirkannya.
Hal ini juga dikatakan oleh ‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah, imam Syafi’i rahimahullah, imam Ahmad rahimahullah dan Ishaq rahimahullah.”
(Sunan At-Tirmidzi 1/298 no.159)