بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Sobat muslimin sekalian, tahukah Anda mengenai kisah dari nabi yang satu ini? Namanya ialah Nabi Ya’qub. Meski di Al-quran, Kitab suci umat Islam, tidak ada ayat khusus yang mengangkat kisah dari nabi ini (diakui karena kisahnya dimuat, tapi tidak memiliki ayat khusus dengan namanya, seperti Nabi Yusuf, dll), namun tetap saja nabi inilah salah satu nabi dari 25 Nabi yang diakui oleh umat Islam sebagai salah satu panutan, yang kisah hidupnya begitu luar biasa.
Pandangan Islam berkenaan Nabi Ya’qub agak berlainan dengan pandangan Agama Yahudi dan Kristen walaupun ada beberapa maklumat yang sama dan hampir sama.
Nah, langsung saja kita mulai dengan cerita singkatnya, tentu dari pandangan Islam. Nabi Ya’qub atau Yakub atau pun Israel (dari versi Agama Yahudi maupun Kristen, dan Beliau lah merupakan nenek moyang generasi ketiga dari bangsa Israel) adalah putera dari Nabi Ishaq bin Ibrahim sedangkan ibunya adalah anak saudara dari Nabi Ibrahim, bernama Rifqah binti A’zar. Ishaq mempunyai anak kembar, satu Ya’qub dan satu lagi bernama Ishu (Eshu).
Di sinilah menariknya, meski mereka berdua kembar, tetapi tidak ada keakuran di antara mereka. Bahkan sampai Ishu mendendam dengan dengki dan iri di hatinya terhadap saudara kembarnya yang memang lebih dimanjakan dan lebih disayangi oleh ibunya.
Hubungan mereka yang renggang dan tidak akrab itu makin buruk setelah diketahui oleh Ishu bahwa Ya’qublah yang diajukan oleh ibunya ketika ayahnya minta kedatangan anak-anaknya untuk diberkahi dan didoakan. Ia tidak mendapat kesempatan memperoleh berkah dan doa ayahnya, Nabi Ishaq.
Karena kebencian saudara kembarnya itu, hingga sampai ingin membunuhnya, membuat Nabi Ya’qub ditambah perintah ayahnya untuk meninggalkan tanah Kanaan dan pergi ke rumah pamannya, saudara dari ibu Nabi Ya’qub.
“Maka jalan yang terbaik bagimu, menurut pikiranku, engkau harus pergi meninggalkan negeri ini dan berhijrah engkau ke Fadan A’raam di daerah Iraq, di mana bapa saudaramu yaitu saudara ibumu, Laban bin Batu’il,” begitu kira-kira ucap Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim.

Berjalanlah ia, dengan melalui jalan pasir dan gurun yang luas menuju Fadan A’ram di Iraq. Tiba akhirnya Ya’qub di depan pintu gerbang kota Fadan A’ram. Sesampainya di salah satu persimpangan jalan ia berjumpa langsung dengan salah satu putri Laban, yang bernama Rahil (Rahel). Gadis itu amat cantik dan membuat hatinya timbul suatu rasa yang disebut suka. Jatuh hatilah ia.

Namun hal tersebut tidak serta merta bertepuk kedua tangan, karena Laban sendiri malah menjodohkan Anak tertuanya (Laiya), tentu dengan mas kawin berupa pengabdian Nabi Ya’qub kepada Laban selama 7 tahun lamanya sebelum ia sah menjadi suami dari Laiya tersebut. Akhirnya Ia jalani masa mas kawin tersebut.

Tujuh tahun telah dilalui oleh Yakub sebagai pekerja dalam perusahaan peternakan Laban. Ya’qub menikahlah dengan Laiya secara sah. Tetapi tetap namanya cinta, ia tetap jatuh hati pada Rahil sejak sebelum menjalani 7 tahun masa mas kawinnya sebagai pekerja di peternakan Laban. Akhirnya ia mendapat persetujuan untuk menikahi Rahil, namun syarat yang sama juga diberlakukan kepada Yakub, sebelum ia dapat memiliki Rahil.
Ia jalani lagi tujuh tahun keduanya di peternakan Laban. Yakub yang sangat hormat pada bapak saudara ibunya dan merasa berutang budi kepadanya yang telah menerima ia di rumah sebagai keluarga sendiri. Terlebih, Laban melayaninya dengan baik dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.
Begitu masa tujuh tahun kedua berakhir Yakub dapat menikahi  Rahil, gadis yang sangat dicintainya yang selalu dikenang sejak pertemuan pertamanya, secara sah. Dengan demikian Nabi Ya’qub beristerikan dua wanita bersaudara, kakak dan adik, hal mana menurut syariat dan peraturan yang berlaku pada waktu itu tidak terlarang (syariat ini diharamkan oleh Muhammad s.a.w di masanya).
Begitulah kira-kira kisah singkat yang dapat saya susun dan pilah untuk sahabat lebaran sekalian. Semoga Kisah dari Nabi Yakub as ini bisa memberi pencerahan dan pemaknaan dari arti penantian 7 tahun yang berulang yang dijalani dengan sabar dan tabah, terlebih taat atas perintah Allah. Subhanallah, kalau begitu mari kita sikapi dengan bijak.
Sumber:
Kisah-Kisah Islami