بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Yusuf ‘Alaihissalam Bermimpi

Pada suatu malam ketika Yusuf masih kecil, ia bermimpi dengan mimpi yang menakjubkan. Ia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Ketika ia bangun, maka ia langsung mendatangi ayahnya, Nabi Ya’qub ‘alaihissalam menceritakan mimpinya itu. Ayahnya pun langsung memahami takwilnya, dan bahwa akan terjadi pada anaknya suatu urusan yang besar. Maka ayahnya segera mengingatkan Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya itu kepada saudara-saudaranya yang nantinya setan akan merusak hubungan mereka dan berhasad kepadanya atas pemberian Allah itu. Yusuf pun menaati saran ayahnya.

Saudara-saudara Yusuf Berniat Buruk Kepada Yusuf

Nabi Ya’qub ‘alaihissalam sangat sayang kepada Yusuf sehingga membuat saudara-saudaranya merasa iri dengannya. Mereka pun berkumpul untuk membuat makar kepadanya agar Yusuf dijauhkan dari ayahnya dan kasih sayang itu beralih kepada mereka.

Salah seorang di antara mereka mengusulkan untuk membunuh Yusuf atau membuangnya ke tempat yang jauh agar perhatian ayahnya hanya tertumpah kepada mereka saja, setelah itu mereka bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi di antara mereka ada yang menolak usulan dibunuhnya Yusuf, ia hanya mengusulkan agar Yusuf dimasukkan ke dalam sumur yang berada jauh agar nanti ditemukan oleh kafilah yang lewat, lalu mereka mengambil dan menjualnya. Ternyata usulan inilah yang dipandang baik dan diterima mereka. Dengan demikian, kesimpulan kesepakatan mereka adalah hendaknya Yusuf diasingkan dan dijauhkan dari tengah-tengah mereka.

Mulailah mereka berpikir bagaimana caranya agar rencana mereka itu dapat terlaksana dengan baik. Setelah itu, mereka pun menemukan caranya. Mereka pun datang kepada ayah mereka dan berkata, “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.”

Nabi Ya’qub berkata, “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf sangat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedangkan kamu lengah darinya.”

Mereka menjawab, “Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang rugi.” (QS. Yusuf: 11-14)

Yusuf Dimasukkan ke Dalam Sumur

Maka pada pagi hari, mereka keluar membawa Yusuf ke gurun sambil menggembala kambing-kambing mereka. Setelah mereka berada jauh dari ayah mereka, maka mulailah mereka melakukan rencana itu, mereka berjalan hingga tiba di sumur, lalu mereka melepas baju Yusuf dan melempar Yusuf ke dalamnya. Ketika itu, Allah mewahyukan kepada Yusuf, “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak ingat lagi.” (QS. Yusuf: 15)

Setelah mereka berhasil memasukkan Yusuf ke sumur, maka mereka berpikir kembali tentang apa yang akan mereka katakan nanti di hadapan ayah mereka ketika ayahnya bertanya tentang Yusuf, hingga akhirnya mereka sepakat untuk mengatakan bahwa seekor serigala memakannya, dan untuk menguatkan pernyataan mereka itu, mereka sembelih seekor kambing lalu darahnya mereka lumuri ke baju Yusuf.

Di malam hari, mereka pulang menemui ayahnya dalam keadaan pura-pura menangis. Nabi Ya’qub pun melihat mereka dan ternyata Yusuf tidak ada di tengah-tengah mereka, lalu mereka memberitahukan secara dusta, bahwa ketika mereka pergi untuk pergi berlomba-lomba dan mereka tinggalkan Yusuf di dekat barang-barangnya, lalu Yusuf dimakan serigala. Selanjutnya mereka mengeluarkan gamisnya yang berlumuran darah untuk menguatkan pernyataan mereka.

Tetapi Nabi Ya’qub melihat gamisnya dalam keadaan tidak robek, karena mereka lupa merobeknya, lalu Ya’qub berkata kepada mereka, “Sungguh aneh serigala ini, mengapa ia bersikap sayang kepada Yusuf, ia memakannya tanpa merobek pakaiannya.” Maka Ya’qub berkata kepada mereka menerangkan kedustaan mereka, “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu, maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18).

Yusuf Dikeluarkan dari Sumur dan Dibawa ke Mesir

Adapun Yusuf, maka ia tetap berada dalam sumur menunggu adanya orang yang mau menolongnya. Ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba datang sebuah kafilah yang hendak menuju Mesir, lalu mereka ingin menambahkan persediaan mereka, kemudian mereka mengutus salah seorang dari mereka ke sumur untuk membawakan air. Ketika ia menurunkan timbanya, maka Yusuf bergantung kepadanya, lalu orang itu melihat ke isi sumur, ternyata dilihatnya seorang anak muda yang tampan berpegangan dengannya. Orang ini pun merasa senang dan memberitahukan kepada kawan-kawannya yang lain, lalu mereka mengeluarkan Yusuf dan membawanya bersama mereka menuju Mesir untuk dijual.

Pada suatu hari, Al ‘Aziz berkeliling di pasar untuk membeli seorang anak buat dirinya, karena ia tidak punya anak. Kemudian kafilah itu menawarkan Yusuf kepadanya, lalu raja Al ‘Aziz membelinya dengan harga beberapa dirham saja.

Kemudian Al Aziz pulang ke istrinya dalam keadaan senang karena membeli seorang anak. Ia juga menyuruh istrinya memuliakan anak tersebut dan berbuat baik kepadanya, mungkin saja ia dapat bermanfaat bagi keduanya atau dijadikan sebagai anak angkat. Demikianlah Allah memberikan kekuasaan kepada Yusuf di bumi sehingga ia hidup di bawah kasih sayang Al ‘Aziz dan pengurusannya.

Istri Al Aziz Menggoda Yusuf

Waktu pun berlalu dan Yusuf semakin dewasa, ia tumbuh sebagai pemuda yang kuat dan sangat tampan. Istri Al ‘Aziz selalu memperhatikan Yusuf setiap harinya dan tertarik kepadanya, mulailah ia menampakkan rasa sukanya melalui isyarat dan sindiran, tetapi Yusuf berpaling darinya dan tidak peduli terhadapnya, maka mulailah wanita ini berpikir bagaimana caranya agar dapat merayu Yusuf.

Suatu hari, ketika suaminya pergi meninggalkan istana, istrinya memanfaatkan kesempatan itu, ia berhias dan memakai pakaian yang indah, mengunci pintu rumahnya dan mengajak Yusuf untuk masuk ke kamarnya serta memintanya melakukan perbuatan keji dengannya.

Akan tetapi Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan sifat ‘iffah (menjaga diri) dan sucinya menolak ajakannya, ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Lalu Yusuf segera pergi menuju pintu untuk keluar dari tempat itu, namun istri Al ‘Aziz tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera menarik Yusuf dari belakang untuk menghalanginya keluar dan menahan gamisnya hingga robek. Tiba-tiba, suaminya yaitu Al Aziz (mentri Mesir) pulang, suasana pun semakin kritis, istri Al ‘Aziz segera meloloskan diri dari keadaan kritis itu di hadapan suaminya dan menuduh Yusuf sebagai orang yang khianat serta berupaya menzaliminya, ia pun berkata kepada suaminya, “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (QS. Yusuf: 25)

Terhadap tuduhan itu Nabi Yusuf segera membela diri dan berkata, “Dialah yang merayu diriku.”

Maka suaminya meminta penyelesaian kepada salah seorang keluarganya, lalu aggota keluarga itu berkata tanpa ragu, “Lihatlah! Jika baju gamisnya koyak di depan, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita Itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf: 26-27)

Lalu suaminya menoleh kepada istrinya, dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 28)

Selanjutnya Al ‘Aziz meminta Yusuf untuk membiarkan masalah ini dan tidak membicarakannya di depan seorang pun, lalu suaminya meminta istrinya meminta ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahannya.

Penduduk Mesir meskipun mereka menyembah patung, namun mereka tahu bahwa yang dapat mengampuni dan menyiksa hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya Al ‘Aziz menyuruh istrinya meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berkumpulnya Wanita-wanita Mesir Atas Undangan Istri Al ‘Aziz

Semua pihak pun sepakat untuk menyembunyikan masalah ini, namun demikian ternyata berita merayunya istri Al ‘Aziz kepada Yusuf telah tersebar di istana, dan wanita-wanita kota itu pun telah membicarakannya, yakni bahwa istri Al ‘Aziz menggoda pelayannya, yaitu Yusuf.

Istri Al ‘Aziz pun mengetahui keadaan itu hingga ia marah dan ingin menunjukkan alasan terhadap tindakannya itu kepada kaum wanita yang membicarakan dirinya, dan bahwa ketampanan Yusuf itulah yang membuat dirinya melakukan hal itu.

Maka istri Al ‘Aziz mengundang kaum wanita kepadanya dan ia telah mempersiapan untuk mereka tempat yang istimewa, ia juga telah memberikan masing-masing mereka sebilah pisau beserta buahnya, lalu istri Al ‘Aziz menyuruh Yusuf keluar.

Yusuf pun keluar menuruti perintah majikannya, maka ketika kaum wanita melihatnya, mereka semua terpesona dengan ketampanannya dan tanpa sadar mereka melukai tangan mereka dengan pisau, sampai-sampai mereka semua mengira bahwa Yusuf adalah seorang malaikat. Istri Al ‘Aziz pun berkata, “Itulah orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Yusuf: 32)

Yusuf Memilih di Dalam Penjara

Yusuf masuk penjara bukanlah karena mencuri atau membunuh, tetapi kerana desakan dari isteri pembesar yang memelihara dirinya dan karena doanya sendiri kepada Allah, kerana tidak tahan dia di tengah tengah masyarakat yang selalu menggoda kepadanya. Sungguh pun begitu dalam penjara dia setempat saja dengan orang orang penjara lainnya, yang umumnya terdiri dari kaum perompak dan pembunuh, penjahat-penjahat besar yang kasar dan tak berbudi. Disebabkan pergaulan dengan mereka itu, makin kuatlah imannya, makin tabah hati dan jiwanya, makin banyak rahasia masyarakat dapat diketahuinya, makin besar keagungan Ilahi dapat dirasakannya.
Selama tinggal di dalam penjara itu, waktunya selalu dipergunakan untuk merawat orang-orang yang sakit lemah, memberi nasihat kepada yang bersalah dan berdosa, mengajarkan berbagai bagai ilmu dan hikmat yang suci kepada penjahat penjahat itu, lalu pada suatu hari datanglah kepadanya wahyu yang pertama, menyatakan dia diangkat Tuhan menjadi Nabi dan RasulNya.
Seterima wahyu yang pertama itu segera Nabi Yusuf menjalankan tugas kerasulannya di dalam masyarakat penjara itu dengan menyeru mereka kepada menyembah Allah, menjauhkan kesyirikan dan kejahatan. Dinyatakannya kepada mereka, bahwa dia adalah Nabi dan Rasul Allah yang diberi perintah untuk membawa mereka ke jalan yang benar. Tiba tiba masuklah pula ke dalam penjara itu dua orang pemuda. Yang pertama bekas tukang kebun raja, sedang yang kedua bendahara raja. Setelah lama hidup dalam masyarakat penjara dan merasakan sengsara dan kesusahannya, tiba tiba pada suatu malam kedua pemuda itu bermimpi semacam mimpi yang aneh dan ajaib, sehingga kedua pemuda tadi selalu gelisah sebelum dapat mengetahui akan takwil mimpi mereka masing masing.
Tidak lain yang mereka harapkan untuk mentakwilkannya, selain dari Nabi Yusuf, kerana hanya Yusuf yang paling mereka percayai, pula sudah mereka ketahui, bahwa Yusuf adalah Nabi dan Rasul Allah. Dengan kenabian dan kerasulannya itu, tentu dia mengetahui banyak rahsia yang ajaib ajaib, begitu pun berkenaan dengan takwil mimpi. Pagi pagi benar pemuda itu telah datang menghadap Yusuf. Mula mula berkata tukang kebun raja menceritakan mimpinya:
Saya bermimpi bahawa saya sedang berada dalam sebuah kebun kurma yang sangat lebat buahnya, menghijau warnanya dan seakan akan di tangan saya ini ada sebuah gelas kepunyaan raja; dengan gelas itulah saya memeras buah buah kurma untuk dijadikan air anggur.
Berkata pula orang yang kedua, iaitu bendahara raja: Saya bermimpi bahwa saya membawa sebuah keranjang di atas kepala saya yang penuh dengan bermacam macam roti dan makanan. Tiba tiba terbang melayang di atas kepala saya burung burung helang, lalu menyambar akan semua roti dan makanan itu, dibawanya terbang ke tempat yang sangat jauh. Sebelum menerangkan akan takwil mimpinya kedua pemuda itu, Yusuf mengambil kesempatan dahulu untuk menjalankan dakwahnya terhadap orang banyak dengan berkata: Saya ini adalah Nabi dan Rasul Allah. Saya akan kemukakan takwil mimpi kedua pemuda ini dengan apa yang diwahyukan Allah kepada saya, wahyu yang sudah barang tentu akan kebenarannya. Bukan seperti tukang tukang tenung dan nujum yang hanya mempergunakan pertolongan setan yang menjadi musuh Allah, dan belum tentu ke-benaran terkaan akan tenungannya itu.
Sekarang akan saya terangkan takwil mimpi kedua pemuda ini menurut apa yang diwahyukan Allah kepada saya, yang boleh kamu jadikan bukti atas kebenaran apa yang saya katakan dan ajarkan kepadamu.
Takwil mimpi pemuda pertama, ialah bahwa dia segera akan keluar dari penjara ini dan kembali bekerja sebagai sebelum masuk penjara yaitu menjadi tukang kebun raja. Adapun takwil pemuda yang kedua, ialah bahwa dia akan dihukum salib, bangkainya akan dimakan oleh burung burung.
Kemudian kepada pemuda yang akan keluar dari penjara itu, Nabi Yusuf berpesan, agar disampaikannya kepada raja, bahwa di dalam penjara ini banyak orang yang tak bersalah yang dihukum, hanya dengan tuduhan tuduhan yang tidak benar belaka, agar hal ini mendapat perhatian raja sepenuhnya. Kebenaran takwil mimpi yang diterangkan Nabi Yusuf ini ternyata kemudian dan Nabi Yusuf bertahun tahun lamanya masih tetap meringkuk dalam penjara itu.

YUSUF KELUAR DARI PENJARA

Raja sendiri akhirnya bermimpi yang sangat aneh pada suatu malam, sehingga raja sendiri gelisah pula, takwil apakah gerangan dari mimpinya yang aneh itu. Lalu dipanggilnya semua orang cerdik pandai, tukang telek dan pembesar pembesar kerajaan. Ditanyakannya kepada mereka itu kalau ada yang tahu akan takwilnya dengan berkata: Aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus. Saya lihat pula tujuh tangkai gandum yang subur dan tujuh tangkai pula yang kurus kering.
Tidak seorang juga di antara mereka itu yang dapat mentakwilkan mimpi raja. Mereka mengatakan bahwa itu adalah mimpi perintang tidur saja dan ada pula yang mengatakan pengaruh angan angan sebelum tertidur saja. Masing masing mereka tidak mengetahui akan takwil mimpi itu.
Sungguhpun begitu, raja belum juga senang hatinya, tetapi gelisah. Apalagi setelah dikajinya dan diselidiki dalam sejarah hidupnya sendiri, belum pernah dia bermimpi seperti mimpi itu, tidak pernah pula dia mendengar orang lain bermimpi demikian. Keinginannya untuk mengetahui takwil mimpi itu bukan berkurang. Setelah tukang kebun raja mendengar kabar ini, dia segera teringat akan Yusuf yang sedang merengkuk dalam penjara yang pernah mentakwilkan mimpinya sendiri dengan tepat. Dia dengan cepat datang menghadap raja dan berkata: Ya Tuanku, di dalam penjara ada seorang pemuda yang mulia, mempunyai fikiran yang dalam, pemandangan yang luas, dapat membukakan keajaiban keajaiban alam dengan akalnya, dapat mentakwilkan mimpi dengan tepat. Tuanku utuslah saya ke sana pasti saya kembali dengan membawa takwil mimpi Tuanku itu dengan yakin kebenarannya.
Raja gembira mendengar pendapat tukang kebunnya itu. Dia lalu mengutus tukang kebunnya itu menemui Yusuf di dalam penjara. Sesampainya di penjara utusan itu berkata: Ya Yusuf, saudaraku yang mulia, saya datang mengganggu akan ketenanganmu. Saya minta fatwa tentang mimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, lantas melihat tujuh tangkai gandum yang rimbun dan tujuh tangkai pula yang hampa serta kering. Mudah mudahan dengan takwil yang akan engkau berikan itu dapatlah engkau diketahui oleh umum kaumku dan berterimakasih kepada engkau atas segala kelebihan dan kebaikan engkau itu.
Yusuf menjawab dan menerangkan, bahwa takwil mimpi itu adalah bahwa negara kita menghadapi masa tujuh tahun yang penuh dengan segala kemakmuran dan keamanan, berkembang biaknya segala ternak, tumbuh suburnya semua tanaman, semua orang akan merasa senang dan bahagia. Tetapi sehabis tujuh tahun itu, akan menyusul pula tujuh tahun masa yang penuh dengan kesengsaraan dan kesusahan hidup, ternak tidak berkembang biak, tanaman tidak berbuah, udara panas dan kering, air kurang dan manusia menderita kelaparan hebat.
Tetapi sesudah habis kedua masa itu, akan datang pula masa selanjutnya yang makmur dan tenteram, masa suburnya tumbuh tumbuhan dan ternak, masa memperbaiki segala kerusakan negeri. Di masa itu setiap rakyat akan dapat merasakan lezatnya berbagai-bagai buah-buahan. Itulah takwil mimpi tersebut menurut apa yang diwahyukan Tuhan kepada saya. Oleh karena itu, bila apa yang saya nyatakan ini terbukti nanti, maka hendaklah di masa tujuh tahun yang makmur dan damai itu, dipergunakan sebaik baiknya untuk menyimpan segala gandum yang masih bertangkai, untuk dipergunakan bagi mengurangi kesengsaraan dan kelaparan ummat pada tujuh tahun berikutnya. Keperluan makan selama tujuh tahun pertama, baiknya hanya dipakai sekadar perlu saja.
Setelah raja diberitahu tentang takwil mimpinya itu, raja mengakui bahwa takwil itu memang terbit dari pemandangan dan fikiran yang dalam dan jauh ke muka. Raja memerintahkan agar Yusuf dibawa ke hadapannya, dengan harapan mudah mudahan ia mempunyai pemandangan pemandangannya yang lain yang berguna dan ilmu ilmunya yang perlu untuk keselamatan bersama. Utusan raja kembali mendatangi Yusuf dan mengkhabarkan akan keputusan dan panggilan raja terhadap dirinya: Raja memanggil engkau, ya Yusuf, kerana raja memerlukankan nasihat nasihatmu dan akan mengangkat engkau ke derajat yang tinggi, demikian kata utusan itu mengajak Yusuf.
Dengan tenang Yusuf memenuhi panggilan itu. Dia keluar dari penjara gelap, sudah bertahun tahun lamanya hidup di situ dengan tidak pernah melihat wajah bulan purnama. Sekian lama dia hanya memakan makanan penjara yang kering, kurang garam. Sekian lama pula hanya tidur di atas tikar yang terhampar di atas tanah yang terdiri dari gurun pasir. Tetapi sebelum keluar dia minta lebih dahulu kepada raja, untuk memanggil semua perempuan yang sudah memotongi tangan mereka sendiri dengan pisau, untuk diterangkan kepada mereka bahwa dia sendiri tidak bersalah apa apa dalam hal itu, hanya merekalah yang bersalah dan berdosa. Raja pun segera memanggil semua perempuan yang memotong jarinya itu dan berkata: Bagaimanakah pandangan kamu sekalian terhadap Yusuf, karena dia akan saya lepaskan dari penjara.
Mereka menjawab, bahwa Yusuf seorang pemuda yang suci murni, tidak pernah bersalah dan berbuat yang tidak baik. Berkata pula isteri pembesar yang telah tergoda dan yang memelihara Yusuf di waktu itu: Memang sudah terlalu lama Yusuf di dalam penjara tanpa kesalahan apa apa. Sayalah yang bersalah karena tak dapat menahan hawa nafsu terhadap dirinya. Saya tahu bahwa dia selalu menjaga kehormatanku dan kehormatan suamiku, tetap memegang teguh ajaran Tuhannya. Sayalah yang menyebabkan dia masuk penjara, sayalah yang menyebabkan dia menanggung sengsara demikian rupa. Dengan pengakuan ini saya akui bahwa sayalah yang mengajak dia menghampiri saya dan dia segan akan ajakan saya itu.

YUSUF MENJADI MENTERI MESIR

Dengan pengakuan para perempuan dan isteri pembesar itu sendiri bersihlah Nabi Yusuf dari segala sangka dan tuduhan selama ini. Bukan bersih semata-mata, tetapi malah bertambah baik namanya di kalangan masyarakat ramai, setelah setiap orang yang keluar dari penjara itu menerangkan dalam masyarakat akan sifat dan perangai Nabi Yusuf di dalam penjara. Atas segala keterangan ini, raja menjadi tertarik hatinya untuk memperkerjakan Yusuf di kalangannya sendiri, menjadi ajudan raja, lalu raja berkata kepadanya: Berdasarkan apa yang aku ketahui tentang dirimu, budi-pekertimu, pemandangan dan pengetahuanmu, maka mulai hari ini engkau kuangkat menjadi aminku, menjadi orang kepercayaan tempat aku bertanya meminta nasihat-nasihat. Maka engkau mulai hari ini berkuasa atas kerajaan kita ini, engkau berkewajiban memperbaiki yang kurang baik dalam negara dan memajukannya menurut apa yang engkau rasa baik. Semuanya aku serahkan kepadamu untuk memutuskan dan mengendalikan-nya.
Karena Yusuf sudah tahu apa yang akan terjadi sebagaimana bunyi takwil mimpi yang sudah ditakwilkannya itu, dimana akan datang masa makmur, maka Yusuf minta supaya kepadanya diserahkan kementerian kemakmuran, ekonomi dan keuangan, karena Yusuf tahu bahwa makanan dan uanglah yang menjadi pokok pangkal keselamatan dan kesengsaraan sesuatu negara di atas dunia ini. Dia minta kedudukan-kedudukan itu kepada raja dengan keyakinan, bahwa dia dapat menghindarkan ummat dari kesengsaraan dan kelaparan yang akan datang itu.
Permintaan Yusuf dipenuhi seluruhnya oleh raja. Dia menjadi seorang menteri yang berkuasa penuh. Demikianlah caranya Allah telah menempatkan Yusuf di tempat yang selayaknya, sesudah bertahun-tahun lamanya di dalam latihan dan training. Sekalipun ia bekas penghuni penjara tetapi semua perkataannya didengar dan diturut orang, segala aturan yang dibuatnya dapat dijalankan rakyat dengan patuhnya, dia menjadi buah bibir dan kecintaan rakyat yang diperintahnya, pula dicintai oleh raja-raja lain yang menjadi tetangga negaranya. Sekalipun sebelum ini dia pernah dipenjarakan, dibuang ke dalam telaga, diperjualbelikan dan sebagainya.
Sudah tujuh tahun konon Nabi Yusuf memegang tampuk kekuasaan, menjalankan rencana politik dan kemakmurannya. Negeri Mesir menjadi bertambah-tambah makmur, rakyatnya semakin bertambah bersatu-padu, taat dan berdisiplin. Masa tujuh tahun itu dipergunakannya sebaik-baiknya untuk memperbanyak gandum simpanan, untuk menghadapi masa tujuh tahun yang panas dan terik, yang sengsara dan lapar itu.
Masa tujuh tahun berikutnya itupun datanglah. Karena terik dan panasnya, tidak terdapat air mengalir, sehingga matilah semua binatang dan tanaman, maka melaratlah semua penduduk negeri. Tetapi karena persediaan yang cukup yang telah diselenggarakan oleh Yusuf selama tujuh tahun berturut turut, maka tidak seorangpun di antara rakyat Mesir yang mati kelaparan di musim meleset itu. Kesengsaraan dan kelaparan di kala itu bukan hanya menimpa negeri Mesir saja, tetapi menimpa pula negeri-negeri yang berdekatan dan bertetangga dengan Mesir sampai ke Kanan, dimana bertempat tinggal Nabi Ya’qub dengan anak anaknya yang dinamakan Asbat itu. Kesehatan perekonomian Mesir di saat yang berbahaya itu dikenal oleh negara negara yang bertetangga dengan Mesir. Orang orang pun sudah sama mengerti bahwa Mesir dipimpin oleh seorang Menteri yang amat pintar, yang adil dan berbudi paling tinggi. Karena itu, bangsa bangsa dan negara negara yang terletak di sekitar Mesir itu sekalipun berlainan bangsa dan warna kulit, tidak malu malu datang minta pertolongan ke Mesir untuk mengatasi kesengsaraan rakyat di negaranya masing masing.
Pada suatu hari Nabi Ya’qub yang sudah sangat tua dan buta matanya itu berkata kepada anak anaknya: Hai anak anakku, kesengsaraan ini akan menimpa diri kita pula. Sebab itu cobalah kamu pergi, beri pelanalah unta untamu itu, pergilah menuju ke negeri Mesir, dimana sekarang ini berkuasa seorang yang paling adil dan baik, namanya masyhur ke mana-mana. Karena kebijaksanaannya, Mesir tetap tidak kelaparan dan tetap makmur. Cobalah minta pertolongan kepada pembesar yang adil berbudi itu. Tetapi janganlah kamu pergi dengan membawa Bunyamin. Biarlah dia tinggal bersamaku di rumah. Kalau tidak begitu dengan siapakah aku akan berhibur sedih sepeninggal kamu sekalian, menjelang kamu kembali. Aku doakan mudah mudahan kamu selamat dalam perjalanan, dilindungi oleh Allah dan ditunjukiNya pula jalan yang lurus.
Pada suatu hari, penjaga pintu kamar kerja Yusuf mengetuk pintu, lalu masuk dan berkata kepada Yusuf: Di luar ada sepuluh orang lelaki, yang tampak persamaan keadaan mereka dan tampak dari wajah mereka bahwa kedatangannya itu bukan dengan niat yang kurang baik. Mereka tampaknya asing di negeri kita ini, berlaku sebagai tetamu dari jauh. Itu terbayang dari bahasa dan gerak geriknya sebagai orang baru yang agak keheranan. Mereka minta izin masuk, ingin bertemu dengan engkau, hendak mengemukakan hal hal yang mereka bawa berhadapan mata dengan engkau. Setelah Yusuf memberi izin, mereka lalu masuk. Semuanya adalah saudara-saudara Yusuf sendiri, anak anak Nabi Ya’qub yang diperintahkan bapanya datang ke Mesir, untuk minta bantuan bahan makanan. Sebagai seorang yang kuat ingatannya, bijaksana dan pintar,
Yusuf tidak lupa kepada mereka. Untuk kebaikan dan kelancaran urusan yang menyebabkan kedatangan mereka itu, Yusuf mendiamkan apa apa yang sudah diketahuinya itu terhadap mereka. Sedang mereka rupanya tidak sedikitpun mengira, bahwa yang mereka hadapi itu adalah saudaranya, yang dahulu pernah mereka buang ke dalam telaga Jub.
Yusuf menyambut mereka dengan sebaik baik sambutan dan diperlakukannya sebagai tetamu yang istimewa dan terhormat. Mereka dipersilakan duduk di tempat yang ditentukan, karena Yusuf ingin mendengar berita berita penting dari mereka, mau mengetahui keadaan mereka sekarang ini.
Sekarang mereka sudah duduk bersama di sekitar Nabi Yusuf, Yusuf mulai bertanyakan ini dan itu: Kamu sekalian sudah saya sambut sebagai tamu yang harus kuhormati dan menjadi haklah bagiku terlebih dahulu untuk bertanyakan sesuatu hal tentang keadaanmu dan maksud kedatanganmu ke mari. Saya ingin tahu lebih dahulu siapakah sebenarnya saudara-saudara ini semua?
Salah seorang di antaranya menjawab: Ya, Tuanku yang budiman ! Kami ini semuanya bersaudara. Yang sebenarnya saudara saudara kami berjumlah duabelas orang, semuanya keturunan Nabi yang mulia, Rasul yang besar. Sepuluh orang di antaranya kami yang duabelas bersaudara itu, diutus oleh Nabi mulia iaitu bapak kami, untuk menghadap Tuan ke mari. Cita cita kami semuanya bergantung pada diri Tuan seorang. Adapun saudara kami yang kesebelas, kami tinggalkan bersama orang tua kami, untuk mengurus keperluan bapa kami yang sudah tua dan mengurus rakyat beliau yang kami tinggalkan. Mengenai saudara kami yang keduabelas, sudah lama tidak lagi di samping kami. Kami tidak mengetahui, apakah dia sudah diangkat Tuhan ke rahmatNya, ataukah dia masih melayarkan bahtera hidupnya dibumi luas ini, semua itu tidaklah kami ketahui. Demikianlah keadaan kami yang sebenarnya.
Berkata pula Yusuf: Saya percaya segala yang kamu kemukakan itu benar semuanya. Sungguhpun begitu, kebenaran sesuatu keterangan itu kurang jelas bila tidak ada bukti yang nyata dan dapat dilihat oleh mata. Untuk menenangkan hati saya, saya minta dari kamu sekalian saksi dan bukti kebenaran dari apa yang kamu ceritakan itu. Bukankah kamu mengatakan tadi bahwa kamu bersaudara sebelas orang banyaknya. Cobalah bawa ke hadapan saya yang seorang lagi, karena yang ada sekarang ini hanya sepuluh orang saja.
Jawab mereka: Ya, Tuanku ! Kami di sini jauh sekali dari kampung halaman kami, jauh dari famili dan kawan kawan kami. Tak begitu mudah kami membawa seseorang saksi dari kampung kami, apalagi kami sudah kekurangan perbekalan untuk pulang dan kembalinya.
Jawab Nabi Yusuf: Saya akan menyediakan perlengkapan dan perbekalan bagimu secukupnya. Agar kamu kembali ke kampungmu selekas mungkin, bawalah ke mari saudaramu yang masih ketinggalan itu, cukuplah dia seorang untuk menjadi saksi dan bukti atas kebenaran apa yang kamu katakan tadi. Bila kamu kembali bersama dia ke mari, saya akan menyambutmu lebih gembira dari sekarang ini dan akan saya lipat-gandakan barang perlengkapan dan perlengkapan kamu. Hanya inilah syarat dan permintaanku dan hanya ini pulalah janjiku terhadapmu. Tetapi bila kamu tidak membawa dia ke mari, jangan diharapkan bahwa permintaanmu akan kukabulkan dan tidak ada gunanya kedatanganmu kembali nanti.
Mereka menjawab pula: Kami sangsi bahwa bapa kami tidak dapat mengizinkan saudara kami yang seorang itu dibawa ke mari, kami sangsi pula apakah beliau cukup bersabar hati berpisah dengan adik kami itu. Tetapi baiklah akan kami coba membawanya dengan keterangan-keterangan yang dapat beliau percayai dan semua itu akan kami jalankan insya Allah. Yusuf lalu memerintahkan kepada orang-orang bawahannya untuk menyediakan perbekalan dan perlengkapan mereka itu. Diberinya bekal yang jauh lebih banyak dan bekal tersebut bukan saja merupakan bahan makanan sebagai yang diminta mereka, tetapi ditambah dengan emas perak untuk mereka perjual belikan, agar mereka benar benar kembali ke tempat ini lagi dengan harapan yang tidak kosong. Mereka segera bertolak kembali ke negerinya dengan perasaan lega, disebabkan sambutan sambutan Yusuf yang sangat memuaskan yang menjadikan kenang kenangan mereka, dengan memperoleh buah tangan dan tandamata yang sangat berharga.
Setiba di negerinya, segera mereka menemui bapaknya, menceritakan pengalaman pengalaman dan apa apa yang sudah berlaku antara mereka dengan pembesar Mesir itu dengan berkata: Kami sudah menemui pembesar itu, ya bapak, rupanya dia adalah seorang yang sangat baik, seorang menteri yang murah hati, dimuliakannya kedatangan kami, ditanyakannya hal ihwal kami, diberinya kami tempat sebaik baiknya, dilengkapinya kami dengan perbekalan-perbekalan yang banyak dan hadiah hadiah yang berharga. Hanya saja ada sebuah syarat yang dimintanya dari kami, iaitu bahwa dia tidak akan memberi bahagian apa apa lagi kepada kami dan tidak akan mempercayai kami, sebelum kami datang kembali kepadanya sambil membawa saudara kami kesebelas yang ditinggalkan bersama bapa. Sebab katanya kalau bukti itu ternyata tidak dapat kami tunjukkan kepadanya, dia tidak percaya akan kebenaran kata kata kami itu. Oleh kerana itu izinkanlah adik Bunyamin dibawa oleh kami esok hari ke Mesir dan akan kami jamin keselamatannya, tidak akan kami sia siakan lagi. Dengan kedatangan kami bersama dia nanti, akan menambah berhasilnya atas kedatangan kami itu. Percayalah bapa kepada kami. Dengan mengeluh Nabi Ya’qub berkata kepada mereka:
Tak sanggup lagi aku mengizinkan dia pergi bersamamu. Aku tak sanggup berpisah dengan dia. Masih ingatkah kamu sekalian, apa yang terjadi dengan Yusuf dahulu? Janganlah kamu coba memperdayakanku yang kedua kalinya lagi, cukuplah sudah sekali itu saja aku ditipu olehmu.
Mendengar jawaban itu, lalu mereka membuka semua bungkusan pembawaan mereka. Dikeluarkannya dari bungkusan bungkusan itu emas dan perak. Kesemuanya mereka serahkan kepada bapanya sambil berkata: Bapa, kami tidak berbohong, inilah buktinya atas perkataan kami yang sesungguhnya, kami benar benar telah bertemu dengan Pembesar Mesir yang kenamaan itu. Bagaimana benarnya ucapan kami tentang hal ini, begitu pula besarnya tentang syarat yang diminta oleh pembesar itu. Percayalah bapa, izinkanlah dia bersama kami besok. Kalau kami tidak kembali lagi bersamanya, kami akan tebusi dengan jiwa kami sekalian.
Setelah Ya’qub melihat bukti bukti kebenaran apa yang mereka katakan itu, Ya’qub mulai sedikit percaya kepada mereka dan merasakan sendiri akan syarat yang diberikan oleh Pembesar Mesir itu. Akhirnya Ya’qub mengabulkan permintaannya dengan mengizinkan Bunyamin turut serta dalam perjalanan itu, tetapi dengan penjanjian dan ikrar yang keras: Dia harus kembali dengan sehat walafiat, kalau tidak, kamu akan menerima takdir yang tidak dapat direkakan hebatnya dan kamu tidak akan diakui sebagai anakku lagi.
Setelah mereka semuanya menerima baik segala janji dan ikrar itu dengan bersumpah dan mempertaruhkan keimanan mereka, lalu berkata: Tuhan menjadi saksi atas segala yang kami katakan itu.
Mereka berangkat bersama adiknya yang diminta oleh Yusuf supaya dibawa. Setelah berjalan jauh, menurun dan mendaki berhari dan bermalam, akhirnya sampailah mereka di tempat yang dituju, lalu minta izin masuk untuk bertemu dengan Yusuf. Baru saja Yusuf melihat akan saudaranya sendiri turut serta, bukan main ghairatnya untuk memeluk dan menciumi saudaranya itu, tetapi seluruh perasaannya disembunyikan saja, Mereka itu dipanggil untuk dijamui bersama sama dan diaturnya duduk berdua dua. Kerana mereka berjumlah sebelas orang, maka tinggallah Bunyamin duduk menyendiri. Melihat dia duduk sendiri itu, Bunyamin lalu mengenangkan nasibnya yang malang itu, seraya menangis tersedu sedu dan berkata dengan suara yang gugup-sayup terdengar:
Kalau Yusuf masih ada, tentu dialah yang duduk di sampingku sekarang ini.
Melihat itu Yusuf lalu tampil dan menjadi teman bagi Bunyamin. Rumah tempat tinggal pun disediakan sebuah rumah untuk dua orang dan Yusuf pulalah yang tinggal bersama Bunyamin. Yusuf serumah dan bermalam dengan adiknya. Yusuf lalu bercakap cakap dengan adiknya yang dicintainya itu: Sukakah engkau menjadikan saya sebagai ganti saudaramu yang telah meninggal itu ?
Bunyamin menjawab: Memang tidak ada orang yang lebih baik dari Tuan sendiri. Namun sayang, Tuan bukan dianakkan oleh Ya’qub dan bunda Rahil.
Mendengar jawaban adiknya itu, Yusuf tidak dapat menahan airmatanya, lalu menangis tersedu sedu sambil berdiri dan mencium adiknya, ia berkata membukakan rahasianya: Aku ini adalah saudaramu yang selama ini engkau sebut sebut dan kau rindukan. Akulah Yusuf saudaramu itu. Aku sudah mengalami banyak pengalaman karena buah perbuatan saudara-saudara kita. Banyak pengalamanku yang sedih sedih dan pahit pahit. Aku pernah ditimpa fitnah yang paling berat. Tetapi itu semua kulawan dengan kesabaran dan ketetapan hati, sambil berjuang mengatasinya atas cobaan cobaan itu. Akhirnya Allah menunjukkan jalan bagiku, sehingga yang sengsara kini menjadi kaya, yang pernah difitnah sekarang menjadi orang yang berkuasa. Tetapi hal ini sekali kali janganlah engkau ceritakan kepada saudara saudara kita untuk sementara waktu. Tutuplah dahulu rahasia ini serapat-rapatnya terhadap mereka.
Tidak dapat diterangkan bagaimana perasaan Bunyamin pada waktu itu setelah mengetahui bahwa yang bercerita itu adalah Yusuf saudaranya. Begitu pula perasaan Yusuf sendiri !
Beberapa hari sudah berlalu dengan tenang, Mereka sudah sampai waktunya untuk kembali ke negerinya. Tetapi Yusuf ingin membuat sesuatu yang agak menggemparkan terhadap mereka. Setelah semua perbekalan dan alat alat yang diperlukan dalam perjalanan itu disediakan, begitu pula buah tangan untuk dibawa pulang, lalu Yusuf memerintahkan kepada seorang suruhannya, agar ke dalam barang barang yang akan dibawa oleh Bunyamin, dimasukkan dengan diam diam sebuah timbangan kepunyaan negara. Baru saja mereka berangkat keluar dari Kota Mesir, tiba tiba mereka ditahan orang dengan berkata:
Berhenti dan turun semua, kamu ini adalah pencuri semua. Alangkah terkejut dan gemparnya mereka mendengar tuduhan seberat itu: Apakah maksudmu menuduh kami, kami ini bukan pencuri sebagai yang kamu tuduh itu. Barang apakah yang sudah kami curi dari kamu?
Orang itu menjawab: Kami kehilangan timbangan (cupak) kepunyaan raja, dan kami mempunyai persangkaan, bahwa kamulah yang telah mengambilnya. Sebab itu kalian kami tahan dan kami berkuasa untuk menahanmu.
Demi Allah kami datang ke mari bukan untuk merusak dan mencuri, jawab saudara-saudana Yusuf.
Kita tak usah bertengkar panjang-panjang, izinkan saja kami memeriksa segala bungkusan yang kamu bawa ini. Hukuman apakah yang akan kamu jalankan nanti, bilamana barang itu terdapat dalam bungkusanmu? kata orang itu lagi. Jawab saudara saudara Yusuf:
Kami ini adalah orang orang yang mempunyai undang undang, mempunyai agama pula. Menurut undang undang dan agama kami, bila seseorang kedapatan mencuri, dia harus ditawan dan boleh dijadikan budak oleh orang yang mempunyai barang itu. Inilah undang undang negeri kami yang selalu kami patuhi dan tunduk kepadanya. Tetapi kami yakin bahwa kami tidak mencuri apa apa.
Akhirnya perkara tersebut dibawa ke hadapan Yusuf, untuk mempersaksikan janji janji yang telah dikemukakan mereka sebagai orang orang terdakwa. Tiap bungkusan diperiksa dengan teliti, seorang demi seorang. Tidak seorang pun di antara sepuluh orang pertama yang membawa barang curian itu. Sekarang tibalah giliran Bunyamin untuk diperiksa segala bungkusannya, iaitu pemeriksaan yang penghabisan. Baru saja bungkusan Bunyamin dibuka, terdapatlah di situ cupak (timbangan) yang dikatakan hilang itu. Cupak itupun segera dipertontonkan kepada mereka. Alangkah terkejut dan terperanjat mereka, malu yang tak dapat terkatakan besarnya.
Yusuf lalu berkata kepada mereka: Sekarang kita tinggal menjalankan undang-undang dan memenuhi janji yang sudah kamu ucapkan tadi. Orang yang bersalah kami tahan dan memang sudah menjadi hak bagi kami untuk menahannya.” Ya, Tuanku, keluh mereka. Bapanya sudah sangat tua, sudah melewati dua usia (lapan puluh tahun lebih), bapanya sungguh berat berpisah dengannya. Ia diizinkan dibawa oleh kami ke mari hanya untuk kali ini saja, guna memenuhi permintaan Tuanku atas kebenaran kami, namun dengan perjanjian bahwa ia harus bersama kami bilamana kami pulang kembali. Kami ini semuanya berjumlah sepuluh orang. Ambillah oleh Tuanku salah seorang di antara kami untuk menggantikannya dan kami percaya bahwa Tuanku adalah orang yang sangat baik hati.
Berkata pula Yusuf: Kami berlindung kepada Allah, bahwa kami tidak akan menahan orang yang tidak mengambil barang kami, sebab kalau demikian halnya, berarti kami orang aniaya.
Dengan meneteskan airmata, mereka meminta agar Bunyamin dapat dibawa pulang akan tetapi permintaan tidak dapat dikabulkan. Akhirnya mereka semua berputus asa untuk memperoleh Bunyamin kembali. Berkatalah ketika itu seorang yang terbesar di antara mereka, yaitu Yahuza: Kita sekalian sudah bersumpah terhadap bapak kita, bahwa Bunyamin pasti pulang dengan selamat, tetapi sekarang tennyata Bunyamin tertinggal, apakah daya kita? Apakah kita dahulu sudah menghilangkan Yusuf dari bapak dan ketika itupun kita sama sama bersumpah pula.
Hati bapak yang luka dan sedih karena hilangnya Yusuf belum sembuh, airmata bapak setiap harinya masih terus mengalir. Kita telah berdosa besar terhadap Yusuf dan dosa itu kita ulangi lagi terhadap Bunyamin.
Saya benjanji bahwa saya tidak akan meninggalkan negeri ini, hingga bapa saya memberi izin untuk kembali atau Allah menjatuhkan hukuman atas diri saya, karena Allah adalah sebaik-baik pemberi hukum.
Sebab itu pulanglah engkau sekalian tinggalkan saya dan katakan kepada bapak nanti, bahwa Bunyamin telah mencuri, te tapi kita sendiri tidak melihat bahwa dia mencuri dan apa yang sebenarnya tersembunyi dalam hal ini kita tidak mengetahuinya. Baiklah bapa supaya menanyakan kepada orang orang di bumi tempat kita berpijak di situ dan orang orang di kafilah yang berada di hadapan kita ketika itu, semuanya akan menjadi saksi bahwa perkataan kita itu benar.
Mereka kesembilan orang pun pulanglah menuju kampung halamannya, sedang Yahuza sengaja tinggal di Mesir, begitupun Bunyamin ditawan oleh pembesar Yusuf.
Baru saja Ya’qub melihat bahwa Bunyamin tidak pulang bersama mereka, hatinya rasa disayat untuk kedua kalinya, bercampur geram yang tak dapat dibayangkan. Lalu ia bertanya: Apa pula yang kamu lakukan atas diri saudaramu? Mana sumpah dan janji yang sudah kamu ucapkan itu? Coba ceritakan apa kejadian yang sebenarnya !
Semua kejadian itu mereka ceritakan. Ya’qub lalu memalingkan muka menyisihkan diri menuju ke dalam kamarnya bersembunyi diri dan berkata: Hal itu sudah terjadi pula, maka sabar pulalah yang lebih baik, karena hanya Allahlah yang dapat menolong atas semua apa yang diceritakan itu.
Mula mula aku kehilangan Yusuf, sekarang kehilangan Bunyamin dan Yahuza pula. Mudah mudahan Allah akan mendatangkan mereka yang telah hilang itu bersama sama, karena Tuhan Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Pintar.

PERTEMUAN

Ya’qub lenyap ke dalam gelombang dan gelora sedih. Gelombang dan gelora sedih yang datang silih berganti. Segenap tulang belulang dan urat sarafnya kini penuh dengan kesedihan, sejak dari hujung rambut hingga ke hujung tumit, lubang kecil sebuah pun tak ada yang dapat ditembus angin untuk mengurangkan serta kepedihan yang menyiksa batinnya. Hanya ada dua ketika saja yang dapat dikatakan menjadi saat gembiranya dalam keadaan sekarang ini. Pertama ialah di saat ia menyembah dan bersujud kepada Allah, ia bermunajat dan berserah diri kepada Allah dalam sembahyangnya, menuang jiwanya dengan iman, sabar dan yakin. Kedua ialah di saat ia mengingatkan wajah Yusuf dan Bunyamin. Di saat mengingat dan membayangkan wajah kedua orang anaknya itu timbul ghairat hati yang gembira dalam kalbunya, seakan akan ia benar benar bertemu dengan kedua anaknya itu, sekalipun hanya sedetik, sesaat belaka yang segera diringi pula oleh air mata dan sedu tangis yang tidak ada hentinya, air mata panas yang membakar jantung, bukan air mata dingin yang dapat mengurangkan kesedihan.
Akan sia sia sajakah air mata dan sedu sedanku sebanyak itu? tanya Ya’qub kepada dirinya, sehabis ia mencurahkan air mata dan menangis tersedu sedu itu. Air mataku ini dijadikan Allah tentu bukan untuk disia siakan belaka, katanya pula yang diperintah oleh rasa keimanan dan kesabaran.
Sungguhpun keimanan dan kesabarannya sentiasa membujuk hatinya yang duka, namun badan Ya’qub bertambah kurus, matanya semakin putih, akhirnya ia tak dapat bergerak lagi karena lemahnya, matanya sudah tidak dapat melihat lagi disebabkan terlalu banyak mengeluarkan air mata.
Pada suatu pagi sehabis dia sembahyang dan berdoa ke hadhrat Tuhannya kembali badannya menjadi gemetar, lalu ia menangis dan air matanya pun tercurah pula, ia mengeluh panjang: Ya Asafa ala Yusuf, katanya dengan suara yang putus, seakan akan ia melihat sendiri akan Yusuf yang berada jauh di sana.
Melihat keadaan bapanya yang demikian itu, salah seorang di antaranya memanggil saudara saudaranya untuk memeriksa bagaimanakah keadaan bapanya kini dengan cara bagaimana untuk dapat membantu dan meringankan kesedihan hatinya yang tidak terhingga itu. Salah seorang di antaranya lalu berkata kepada bapanya: Hai, bapa kami. Engkau adalah Rasul yang benar, Nabi yang mulia. Wahyu Allah turun kepada engkau, ya bapa, dari engkaulah keluarnya nasihat dan petunjuk. Tetapi mengapa bapa sampai demikian rupa? Sudah cukup rasanya air mata yang bapa keluarkan, sehingga sudah kurus kering badan bapa karenanya “Demi Allah, senantiasa bapa teringat kepada Yusuf, sehingga keadaan bapa menjadi sakit atau mungkin meninggal dunia.
Berkatalah Ya’qub: Semua usahamu akan sia sia belaka, takkan ada yang dapat menyembuhkan penyakitku ini, sebelum aku dapat bertemu dengan Yusuf dan dapat melihat wajahnya. Sekalipun Yusuf sudah mati dimakan serigala sebagaimana ucapanmu, tetapi selama aku masih dapat menghirup udara dan masih berada di bawah lindungan langit yang biru, aku dapat merasakan suatu perasaan yang berada dalam jiwa dan lubuk jantungku, wahyu Allah telah berhembus dalam hatiku, sehingga aku masih mempunyai kepercayaan bahwa Yusuf masih menghirup udara yang kuhirup, masih bernaung di bawah langit biru yang melindungiiku ini. Hanya saja aku tidak mengetahui padang pasir manakah yang sedang dijalaninya sekarang ini, entah ke timur atau ke barat tujuan perjalanannya. Inilah yang menyebabkan kesedihan dan kepiluan hatiku. Bila kamu sekalian ingin menyembuhkan aku dari penyakitku dan menghilangkan segala kesedihan hatiku, pergilah kamu untuk menjelajahi bumi Allah yang luas ini, carilah di mana Yusuf sekarang berada, walaupun kamu sudah mengatakan bahwa dia sudah binasa. Carilah dia dengan segala kesungguhan dan kesabaranmu dan janganlah kamu sampai berputus asa, karena tidak akan berputus asa selain mereka orang orang yang kafir.
Kata kata yang keluar dari mulut bapanya yang sudah tua itu, sungguh menusuk lubuk hati mereka, dicucukkanlah tiap tiap kata yang diucapkan oleh bapanya itu dengan rahasia rahasia yang mereka simpan selama ini. Teringatlah mereka, bukankah Yusuf tidak jelas matinya, karena mereka hanya melemparkannya hidup hidup ke dalam telaga Jub itu? Mungkin dia dapat keluar dari telaga itu dan setelah ia dapat keluar terus mengembara ke sana ke mari. Tetapi di manakah gerangan Yusuf sekarang ini?
Sungguhpun tentang Yusuf masih meragukan hati mereka, tetapi mengenai Bunyamin, jelas masih ada, sedang dalam tawanan raja dan tempatnya pun sudah dikenalnya pula. Timbullah gerak dalam hati mereka untuk mencoba mendapatkan Bunyamin lebih dahulu, kemudian baru berikhtiar mencari Yusuf, sebab mereka beranggapan, dengan kembalinya Bunyamin lebih dahulu, sedikitnya dapat juga mengurangi kesedihan hati bapanya.
Mereka lalu minta izin untuk berangkat kembali ke tanah Mesir, menghadap pembesarnya yang masyhur itu, dengan maksud untuk meminta saudaranya yang ditawan itu dengan permohonan setinggi tingginya, harapan yang sebesar besarnya, lebih tinggi dari langit dan lebih besar dari bumi.
Setibanya di negri Mesir, segera mereka mendapatkan pembesar (Yusuf) serta menyampaikan permohonan: Ya Tuanku Pembesar, keadaan memaksa kami untuk kembali ke mari menghadap Tuan. Kehendak kami akan menetap di sini mendatangkan sembah dan sujud kepada Tuan, Hari yang selalu berubah. Bahan bahan yang telah Tuan serahkan kepada kami semuanya telah habis, sedang keadaan di tempat kami masih tetap susah, sedang bahaya kelaparan masih tetap mengancam kami. Kami sengaja datang kembali untuk minta atas segala kemurahan hati Tuan, agar Tuan suka memberi sedekah lagi kepada kami, untuk dapat menahan hidup kami. Begitu pula bila Tuan masih menyukai dan berbuat baik terhadap kami, sudilah kiranya Tuan melepaskan saudara kami yang sedang Tuan tahan itu, agar dengan cara demikian dapatlah air mata bapa kami yang selalu bercucuran itu ditahannya, begitu pula jantung beliau dapat diringankan.
Di saat itu Yusuf berpendapat, bahwa sudah datanglah waktunya kini untuk membukakan rahasianya yang selalu ditutupinya, guna memaklumkan kepada saudara saudaranya, bahwa dialah Yusuf, agar mereka itu mengakui atas kebenaran dan kesalahan kesalahan yang telah mereka lakukan.
Berkatalah Yusuf kepada saudara saudaranya itu: Ingatkah kamu sekalian akan awal cerita di waktu kamu masih kecil kecil? Kamu diperbudak oleh hawa nafsu dan dengki, menurutkan pengaruh buruk dari syaitan, sehingga Yusuf kamu buang ke dalam telaga, kemudian saudaranya yang tertinggal selalu kamu goda dan kamu hinakan. Masih teringatkah kamu, ketika salah seorang di antaranya yang terkuat dengan kedua belah tangannya yang kuat itu memaksa Yusuf untuk membuka semua pakaiannya? Sedang Yusuf ketika itu menangis terisak isak minta dikasihani, tetapi tidak ada seorang pun di antaramu yang merasa kasihan kepadanya dan dengan kasar kamu lemparkan dia ke dalam telaga yang jauh terpencil di tengah tengah gurun Sahara yang panas, dan di sanalah pula kamu tinggalkan Yusuf sendirian menunggu nasib dan takdir Tuhannya.
Mendengar cerita Yusuf itu, mulailah mereka tercengang cengang, keheranan. Dari siapakah pembesar itu tahu akan riwayat itu semua? Apakah dari Bunyamin? Tetapi Bunyamin sendiri tidak turut ketika itu, tidak pula mengetahui sedikitpun tentang kejadian itu dan tak seorang manusia pun yang tahu.
Setelah menyimpulkan pendapat bahwa tak seorang juga manusia yang mengetahui akan kejadian itu, mereka memerhatikan benar benar akan gerak gerik orang yang berkata kata di hadapannya, diingat ingatnya akan bentuk dan keadaan diri Yusuf, akhirnya yakinlah mereka bahwa semua tanda tanda yang dapat mereka ingat, memang bersamaan dengan orang yang berada di hadapan mereka itu, lalu berkatalah mereka: Sesungguhnya engkau inilah kiranya Yusuf.
Dengan segera Yusuf menjawab: Betul saya adalah Yusuf, dan ini Bunyamin adalah saudaraku sendiri. Allah telah mempertemukan kami, karena dia adalah hamba Tuhan yang taqwa dan penyabar, sedang Allah tidak akan menyia nyiakan jasa hambaNya yang sabar itu.
Mendengar kisah itu, berubahlah warna muka mereka, terkejut dan lebih terperanjat, dari mendengar petir yang dahsyat sekalipun. Mulut mereka menjadi tertutup tak dapat berkata kata, badan mereka menjadi kaku tak dapat bergerak rasanya. Kalau bumi mempunyai mulut dan mengangakan mulutnya itu, rupanya mereka rela masuk ke dalamnya, agar ditelannya habis habis di saat itu juga.
Tetapi Yusuf dengan segera menyabarkan mereka, dijelaskannya bahwa mereka tidak akan menerima pembalasan apa apa, karena mereka itu saudaranya sendiri, saudara sebapa, sekalipun dahulu mereka pernah berbuat kejahatan terhadap dirinya. Yusuf berkata kepada mereka: Aku tidak akan bertindak apa apa atas dirimu sekalian. Tuhan telah mengampuni segala dosamu. Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih.
Kembali kita kepada Nabi Ya’qub yang sedang ditimpa cobaan besar silih berganti, sebagaimana halnya yang dialami oleh Yusuf sendiri. Memang kedua orang itu adalah orang orang suci yang harus lurus dalam menerima cobaan yang bagaimanapun juga hebat dan dahsyatnya, cobaan yang tak mungkin dapat diatasi oleh sembarang manusia.
Demikianlah, pada suatu pagi setelah Nabi Ya’qub selesai mengerjakan sembahyang, sehabis berdoa dan mengingat akan Allah, dia kembali menangis tersedu sedu dengan sehebat hebatnya, ia seorang diri kerana tidak ada orang yang menemaninya. Tiba tiba tangisnya terhenti, dadanya berasa lapang, airmatanya tak mengalir, hatinya sangat nyaman. Dia pun heran, dari manakah gerangan datangnya perasaan yang demikian lega dan senang itu? Ketika itu teringatlah dia akan Yusuf, terbayang pula dalam ingatannya akan wajah Yusuf. Ketika itu keluarlah senyuman dari kedua belah bibirnya.
Tiba tiba Ya’qub berteriak dengan sekuat suaranya: Sungguh, aku mencium baunya Yusuf.
Tepat di saat itu sampailah unta yang dikendarai anak anaknya dari Mesir, selain membawa buah tangan, mereka juga membawa sehelai baju kepunyaan Yusuf. Baju itulah rupanya yang tercium oleh hidung Ya’qub sehingga ia merasakan nikmat, hilang segala kedukaannya.
Anak anaknya yang sembilan orang itupun segera turun dari untanya, lalu melemparkan baju Yusuf yang sengaja mereka bawa itu ke hadapan Ya’qub, tepat mengenai hidungnya. Seketika itu juga mata Ya’qub yang selama ini buta dan kering, kini terbukalah serta dapat melihat dengan terangnya.
Di dalam keadaan yang serba nikmat bahagia itu, mereka ceritakan kepada bapanya segala sesuatu yang telah terjadi dalam perjalanannya ke Mesir yang ketiga kalinya ini, dimana mereka telah menemui pula pembesar yang budiman itu, serta diterangkannya pula agar mereka sekaliannya berangkat kembali ke Mesir, untuk menemui serta dapat hidup bersama sama dengan Yusuf.
Berkatalah Ya’qub dengan sangat girangnya: Apa apa yang sudah terjadi, marilah kita lupakan, sekalipun aku tidak dapat menghindarkan seseorang dari siksaan Allah, namun aku mendoakan serta memintakan keampunan kepada Allah, mudah mudahan Allah mengampuni segala dosa dosamu sekalian begitu pula dosaku sendiri, karena Allah Pemberi ampun dan Pengasih. Sekarang marilah kita berangkat bersama sama menuju Mesir.
Setelah Yusuf melihat bapanya datang dan sedang dikelilingi oleh saudara saudaranya yang berjumlah I I orang itu, sekalian saudara saudaranya itu sujud bersimpuh di hadapan Yusuf sebagai tanda membesarkannya, lalu berdiri di hadapan Yusuf dengan hormatnya. Seketika itu juga Yusuf menengadahkan kedua belah tangannya ke langit, ia bersyukur atas nikmat dan kurnia Allah yang dianugerahkan pada dirinya, sambil berkata: Tuhanku, Engkau sudah memberi kekuasaan padaku dan Engkau telah mengajarkan akan takwil mimpiku, Engkaulah yang menciptakan semuanya langit dan bumi. Engkaulah Waliku di atas dunia dan di akhirat nanti, hendaknya Engkau mewafatkan aku dalam keadaan aku beragama Islam dan masukkanlah aku dalam golongan orang orang yang berbahagia.
Demikianlah riwayat kedua orang Nabi Besar yang mulia ini, iaitu Nabi Ya’qub dengan anaknya (Nabi Yusuf as.), yang tak kurang pula hebat serta mendalam pembawaannya, dibandingkan dengan riwayat Nabi Ibrahim dengan anaknya (Nabi Ismail). Begitu pula riwayat para Nabi dan Rasul lainnya. Hanya dengan kesucian dan keimanan mereka kepada Allah sajalah yang dapat membawa mereka dengan kejayaan dalam menghadapi perjuangan sucinya, Dengan itu pulalah mereka dapat mengatasi segala rintangan dan bahaya yang mereka hadapi, rintangan dan bahaya mana jauh lebih hebat dan sulit dari rintangan serta bahaya yang dihadapi oleh manusia di zaman sekarang ini. Dengan berpedoman kepada perjuangan mereka itu, insya Allah kita akan berhasil pula mengatasi segala kesulitan yang terdapat sekarang ini dalam menghadapi penjuangan kita.